Kamis, 25 November 2010

Inilah 11 Merk Air Minum Kemasan Mengandung Bakteri Berlebih


 Semakin tahun, produksi air minum dalam kemasan (AMDK) gelas semakin tak terhitung jumlahnya. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia melakukan penelitian untuk meneliti kadar bakteri yang terkandung dalam minuman kemasan tersebut.
“Dari 21 merk minuman kemasan gelas yang kita uji, 11 di antaranya ditemukan nilai bakteri yang bermasalah,” ujar peneliti YLKI, Ida Marlinda Loenggana, dalam jumpa pers mengenai hasil uji AMDK di Kantor YLKI, Jl Pancoran Barat, Duren Tiga, Jakarta, Rabu (28/10/2010).
Produk air minuman kemasan yang diteliti YLKI, menurut Ida, tidak terfokus pada produk yang sudah mempunyai nama saja. YLKI juga mengambil sampel dari merk-merk yang jarang terdengar di pasaran.
Penelitian ini, lanjut Ida, dilakukan YLKI pada sejak bulan Maret hingga Mei 2010. Sampel produk-produk air minuman itu mereka dapatkan dari pasar tradisional, swalayan, dan juga mal-mal.
“Dan daerah itu kita pilih tersebar tapi ada juga yang sampai di Cilincing, Penggilingan, yang umum di sekitar utara dan timur (Jakarta),” kata Ida.
Dari 11 merk air minum kemasan yang bermasalah tersebut, lanjut Ida, ditemukan total bakteri mencapai 10 ribu sampai 100 ribu koloni/mL. Padahal, menurut Standar SNI 01-3553-2006 kandungan mikrobiologi untuk air minum itu mulai dari 100 sampai dengan 100 ribu koloni/mL.
“Dari 11 ini, kita menemukan 9 yang mendekati yaitu Pretige, Top Aqua, Air Max, Caspian, Club, Pasti Air,Vit, Prima, De As. Sedangkan 2 yang melebihi batas itu ada Ron88 dan Sega. Dengan tanggal kadaluarsa yang beragam. Ada yang Januari 2011 sampai Oktober 2011,” imbuhnya.
“Tapi kalaupun tanggal kadaluarsanya masih jauh, tapi sudang mengandung bakteri lagi bagaimana ke depannya,” lanjut Ida.
Terhadap 11 merk ini, YLKI menurut Ida sudah mencoba meminta klarifikasi. Tapi hanya merk yang mempunyai alamat langkap dan memberikan tanggapan.
“Sedangkan yang dua lagi tidak punya alamat padahal mereka punya nomer registrasi,” jelasnya.
Ida mengatakan, dari berbagai tanggapan yang diterima YLKI banyak yang positif terhadap penelitian yang dilakukan YLKI ini. Namun sayangnya, pihak produsen umumnya lebih menyalahkan nilai bakteri yang berkembang itu bertambah setelah usai masa produksi.
“Banyak yang positif, tapi ada juga yang negatif, kalau negatifnya, mereka umumnya menyalahkan pada saat proses distribusi dan proses penyimpanan dan penempatan pada saat prosuk tersebut sampaik ke penjual. Penjual yang membiarkan terkena matahari pasti bakteri akan berkembang,” tegas Ida.
YLKI berharap dengan penelitian ini, pihak produsen lebih bertanggung jawab. Karena sistem pengawasan produk mutlak sampai ke tangan konsumen. YLKI juga berpesan pada masyarakat untuk lebih mempertimbangkan pemilihan produk air minum kemasan.
“Produsen bertanggung jawab memenuhi standar keamanan dan keselataman. Masyarakat juga jangan karena memilih yang murak tapi tidak mempertimbangkan aspek kandungannya. Dan kepada penegak hukum jika ada produsen nakal yang tidak memperbaiki dan bertanggung jawab kita berharap diberikan sanksi yang menjerakan,” tandasnya. (Detik.com)
:Wikimu - bisa-bisanya kita...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar